Medannya terlalu berat. Harus putar balik dan
cari jalan alternatif. Aku terbiasa menjalaninya sendirian. Tapi kali ini aku
tak sanggup. Keangkuhanku runtuh, ya, aku membutuhkan seorang teman. Hanya
seorang saja, tak banyak. Tapi sudahlah. Aku tak mau mengemis, akupun tak mau
dikasihani. Aku cukup tangguh melalui jalan ini, sedikit sayatan tak akan
mengusikku.
Aku sanggup jika harus bertarung melawan
sejuta musuh, tapi aku tak sanggup bertarung melawan diriku sendiri. Saat
logika dan hati tak sejalan. Saat ego meruntuhkan harapan. Saat ucapan dan
keinginan bertolak belakang. Aku terlalu lemah melawan diriku sendiri.
Ada kalanya logika dan hati tak sejalan. Ada
kalanya logika mengalahkan keyakinan yang sudah terpatri dalam hati. Tapi ada
kalanya logika tak bisa menjelaskan semuanya. Ada hal hal yang tidak perlu
dipahami. Ada hal hal yang tercipta memang untuk mengalahkan logika. Dan aku
hanya cukup untuk berbesar hati menerimanya. Lalu aku akan mengerti dengan
sendirinya.
Bukankah dalam hidup ada perhentian ? tak
perlu terus kencang berlari. Santailah sejenak. Nikamti setiap langkah yang
dilalui. Tak apalah jika tujuan awal terbengkalai, Tuhan menyediakan banyak
pilihan didepan sana. Jangan terlena, pemandangan itu pun hanya fatamorgana.
Bersiaplah untuk berlari kembali. Jika tidak, kau mau merima sisa dari orang
lain ?
Aku bukanlah seseorang yang mengerti tentang
kelihaian membaca hati. Aku juga bukan peramal masa depan. Aku hanya pemimpi
kecil yang berusaha untuk mengubah nasibnya. Bukankah sang malam masih memiliki
bintang untuk meneranginya ? bukankah setelah hujan akan terbit keindahan lain,
emm, katakan sajalah itu pelangi. Bukankah dibalik teriknya matahari sang awan
masih setia mendampinginya ? mengerti maksudku ? tidak ? baiklah, tak usah
dipaksakan.
Aku tidak kesepian. Sama sekali tidak. Aku
tidak peduli jika harus melewati semuanya seorang diri. Tapi kali ini, aku
hanya membutuhkan seorang, tidak banyak. Bukan untuk menemaniku, tapi untuk
mengingatkanku. Bukan untuk mendampingi setiap langkahku, tapi untuk
mendorongku disaat aku telah salah langkah. Bukan untuk memberikanku semangat,
tapi untuk memarahiku disaat aku mulai mengeluh.
Aku mau bercerita sedikit tentang teman
temanku. Aku mempunyai banyak sekali teman. Akan kuperkenalkan, ada si angkuh,
si ego, si keras kepala, si pembangkang, si angkuh, si penyabar, si pendiam, si
pemimpi, si ambisius, daannn.... emm, aku lupa ada siapa lagi, karena mereka
datang dan pergi sesuka hati. Mereka semua teman temanku. Walaupun kami sering
sekali berselisih, tapi mereka selalu ada kapanpun aku membutuhkan mereka.
Aku rasa obrolan ini mulai menjadi satu arah. Ayolah,
temani aku berbincang untuk kali ini saja. Akan kubayar setiap waktumu untuk
menemaniku berbincang. Tidak bisa ? baiklah baiklah, aku tidak akan memaksa.
Kau sudah siap untuk berlari kembali ? teruskan perjalananmu, aku masih ingin
menikmati fatamorgana ini. Aku akan menyusulmu melalui jalan alternatifku. sampai jumpa dibentuk kehidupan yang lain, mungkin. saat aku telah menemukan alasan untuk tetap bertahan pada tempatku dan kau menemukan alasan untuk pergi meninggalkan tempatmu.