Rabu, 29 Agustus 2012

tangled


Medannya terlalu berat. Harus putar balik dan cari jalan alternatif. Aku terbiasa menjalaninya sendirian. Tapi kali ini aku tak sanggup. Keangkuhanku runtuh, ya, aku membutuhkan seorang teman. Hanya seorang saja, tak banyak. Tapi sudahlah. Aku tak mau mengemis, akupun tak mau dikasihani. Aku cukup tangguh melalui jalan ini, sedikit sayatan tak akan mengusikku.

Aku sanggup jika harus bertarung melawan sejuta musuh, tapi aku tak sanggup bertarung melawan diriku sendiri. Saat logika dan hati tak sejalan. Saat ego meruntuhkan harapan. Saat ucapan dan keinginan bertolak belakang. Aku terlalu lemah melawan diriku sendiri.

Ada kalanya logika dan hati tak sejalan. Ada kalanya logika mengalahkan keyakinan yang sudah terpatri dalam hati. Tapi ada kalanya logika tak bisa menjelaskan semuanya. Ada hal hal yang tidak perlu dipahami. Ada hal hal yang tercipta memang untuk mengalahkan logika. Dan aku hanya cukup untuk berbesar hati menerimanya. Lalu aku akan mengerti dengan sendirinya.

Bukankah dalam hidup ada perhentian ? tak perlu terus kencang berlari. Santailah sejenak. Nikamti setiap langkah yang dilalui. Tak apalah jika tujuan awal terbengkalai, Tuhan menyediakan banyak pilihan didepan sana. Jangan terlena, pemandangan itu pun hanya fatamorgana. Bersiaplah untuk berlari kembali. Jika tidak, kau mau merima sisa dari orang lain ?

Aku bukanlah seseorang yang mengerti tentang kelihaian membaca hati. Aku juga bukan peramal masa depan. Aku hanya pemimpi kecil yang berusaha untuk mengubah nasibnya. Bukankah sang malam masih memiliki bintang untuk meneranginya ? bukankah setelah hujan akan terbit keindahan lain, emm, katakan sajalah itu pelangi. Bukankah dibalik teriknya matahari sang awan masih setia mendampinginya ? mengerti maksudku ? tidak ? baiklah, tak usah dipaksakan.

Aku tidak kesepian. Sama sekali tidak. Aku tidak peduli jika harus melewati semuanya seorang diri. Tapi kali ini, aku hanya membutuhkan seorang, tidak banyak. Bukan untuk menemaniku, tapi untuk mengingatkanku. Bukan untuk mendampingi setiap langkahku, tapi untuk mendorongku disaat aku telah salah langkah. Bukan untuk memberikanku semangat, tapi untuk memarahiku disaat aku mulai mengeluh.

Aku mau bercerita sedikit tentang teman temanku. Aku mempunyai banyak sekali teman. Akan kuperkenalkan, ada si angkuh, si ego, si keras kepala, si pembangkang, si angkuh, si penyabar, si pendiam, si pemimpi, si ambisius, daannn.... emm, aku lupa ada siapa lagi, karena mereka datang dan pergi sesuka hati. Mereka semua teman temanku. Walaupun kami sering sekali berselisih, tapi mereka selalu ada kapanpun aku membutuhkan mereka.

Aku rasa obrolan ini mulai menjadi satu arah. Ayolah, temani aku berbincang untuk kali ini saja. Akan kubayar setiap waktumu untuk menemaniku berbincang. Tidak bisa ? baiklah baiklah, aku tidak akan memaksa. Kau sudah siap untuk berlari kembali ? teruskan perjalananmu, aku masih ingin menikmati fatamorgana ini. Aku akan menyusulmu melalui jalan alternatifku. sampai jumpa dibentuk kehidupan yang lain, mungkin. saat aku telah menemukan alasan untuk tetap bertahan pada tempatku dan kau menemukan alasan untuk pergi meninggalkan tempatmu.

Minggu, 26 Agustus 2012

el aventurero


Kekecewaan. Terbiasa merasakan semuanya, sedari dulu. Tidak perlu ada yang disesali dan tidak perlu ada yang diperbaiki. Karena semua yang telah dilakukan tidak akan pernah terasa cukup. Nikmati sajalah.
Semua berubah, tanpa harus tau kenapa. Harapan membumbung tinggi, jatuh seketika melihat kenyataan tak mampu menyajikan keindahan. Sekali lagi, nikmati sajalah.

Aku akan membuat semuanya menjadi indah, ya tentu saja indah dimataku. Aku tak peduli jika itu terlihat buruk dimata seorang picisan. Cukuplah aku mengais dari sisa sisa jilatan orang lain. Atau orang lain yang mengais dari sisa jilatanku.

Tidak ada yang perlu dipikirkan, tidak perlu ada yang dipahami, hanya perlu menerima. Dan semua akan terasa begitu indah. Jika aku harus berdarah, aku akan melakukannya, bukan untukmu, tapi untuk kebahagiaan. Kebahagiaan aku dan kamu, mungkin.

Terasa melelahkan. Sangat melelahkan. Tergurat senyum paksa dari bibir tipis, di dalam tersayat hati. Sandiwara ini begitu sempurna. Tepuk tangan riuh melambungkan angan. Akulah sang penghibur. Sombong. Itu yang aku perlukan. Dan akan terus aku pertahankan.

Menunggu. Terus menunggu. Ya, aku masih akan terus menunggu. Sampai raga ini tak mampu lagi menopang semua ego. Sampai raga ini terseok seok menumpahkan keangkuhan. Dan sampai raga ini kembali pada asalnya. Biarkan semuanya terkuras habis, karena aku tidak suka menyisakan apapun. Apapun. 

O ya, jangan khawatir, aku tidak butuk seseorang untuk mendengarkan keluh kesahku, aku pun tak butuh tempat untuk berbagi. Aku tak butuh lebih banyak penjilat. Sudah kubilang bukan ? aku seorang yang angkuh, kesombonganku adalah tahtaku. Egoku adalah hartaku. Dengan itu semua aku membangun kerajaanku.

Aku tak sampai hati menyeret kalian ke dalam duniaku yang skeptis, sporadis. Aku beritahu, banyak lembah hitam disini. Aku bukanlah seorang yang lihai mambaca hati, tapi aku tahu kalian tidak akan mau berkunjung ke tempatku ini. Aku tak butuh belas kasihan, cukuplah bersandiwara, jangan sampai aku muntah dimuka kalian. Tapi tenang, ketika aku mempunyai sedikit kebahagiaan, aku akan mengunjungi dunia kalian, akan kubagi dengan senang hati. Aku memang seorang yang angkuh, tapi aku masih mempunyai sedikit hati sisa pemberian Tuhan.

Kenapa ? Terasa kasar ? Dunia kalian yang terlalu lembut. Ini hal yang biasa di duniaku. Tak perlu logika untuk memahami duniaku. Dan tidak perlu juga mencoba memahami bagaimana sesuatu bisa terjadi. Cukup rasakan dan nikmati. Kalian akan mengerti dengan sendirinya.

Sudah lama aku berniat melakukan perjalanan panjang meninggalkan kerajaanku. Melangkahkan kaki ke tempat dimana cinta akan tumbuh dengan subur. Aku sudah pernah melakukannya. Tapi aku kembali. Aku salah menilai dunia kalian. Tidak selembut yang aku bayangkan. Bahkan lebih kejam dari duniaku. Emm, apa bahasa didunia kalian jika ada orang yang bermuka dua ? o ya, munafik. Banyak orang orang munafik di dunia kalian. Itu jauh lebih kejam dari kesombonganku. Mereka bertingkah baik kepadaku, tapi ketika aku berbalik mereka menyerangku.

Sudah cukup aku rasa.